3 KASUS YANG BERKAITAN DENGAN KOMPUTER&MASYARAKAT
Waspada Virus Petya, Jangan Langsung Nyalakan Komputer Usai Libur Lebaran!
Belum lagi ingatan mengenai WannaCry pudar, muncul lagi virus komputer/program jahat baru yang kembali mengincar komputer-komputer kantor di seluruh dunia.Petya, sang virus alias ransomware itu, bahkan lebih “jahat” dibandingkan WannaCry karena tidak sekadar mengunci file di harddisk, tapi melumpuhkan seluruh komputer.Petya mengunci komputer dengan enkripsi dua lapis. Enkripsi pertama mengunci file sasaran secara indvidual. Enkripsi kedua mengunci struktur partition table NTFS di harddisk sehingga komputer tidak bisa masuk ke sistem operasi. (Baca: Kena Ransomware, Rumah Sakit Ini Terpaksa Bayar Tebusan Rp 226 Juta) Si virus Petya juga menjalankan instruksi khusus yang memaksa sistem crash dan reboot sehingga komputer tidak bisa dipakai, sampai korban membayar tebusan senilai 300 dollar AS yang diminta. Peneliti keamanan Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengatakan kasus infeksi virus Petya di Indonesia dikhawatirkan belum banyak diketahui lantaran kantor-kantor masih meliburkan diri dalam rangka musim mudik Lebaran 2017.“Mungkin pas Senin (3/7/2017) baru ketahuan pas balik dari liburan,” kata Alfons kepada KompasTekno melalui pesan singkat. Oleh karena itu, seperti dalam kasus WannaCry yang merebak Mei lalu, Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII) mengimbau para pekerja agar tak langsung menyalakan komputer ketika masuk kantor pagi ini.
Imbauan dari Indonesia Security Incident Response Team on Internet
Infrastructure (Id-SIRTII) untuk tidak langsung menyalakan komputer
kantor pada hari Senin (3/7/2017) saat masuk kerja, untuk mengantisipasi
penyebaran ransomware Petya.
Lantas, bagaimana cara mencegah komputer terinfeksi virus ransomware Petya? Id-SIRTII menjelaskan langkah-langkahnya melalui sebuah laman khusus soal itu.
“Sebelum
hidupkan komputer/server, terlebih dahulu matikan Hotspot/WiFi dan
cabut koneksi kabel LAN/ internet sementara, sampai dipastikan semua
aman,” tulis Id-SIRTII.
Setelahnya, yang mesti dilakukan adalah segera melakukan backup semua file penting di komputer ke media penyimpanan terpisah, seperti harddisk eksternal atau flashdisk.
Apabila kadung terinteksi, komputer akan menampilkan pesan berbunyi sebagai berikut begitu dinyalakan:
“Do
not turn off your PC! If you abort this process you could destroy all
of your data! Please ensure that your power cable is plugged in.
(Jangan matikan PC Anda. Kalau proses ini dibatalkan, maka semua data
bisa hilang. Pastikan kabel daya tetap tercolok ke komputer)”.
Ketika
pesan di atas muncul, yang sedang terjadi sebenarnya adalah si virus
Petya sedang dalam proses mengunci komputer korban. Ransomware
memunculkan pesan untuk menakut-nakuti korban supaya tak mematikan PC.
Yang
harus dilakukan adalah hal sebaliknya: matikan komputer sesegera
mungkin. Virus Petya tak akan berdaya kalau komputer dalam keadaan mati.
PC yang terinfeksi harus diisolasi dari jaringan dengan memutus
sambungan Wi-Fi dan LAN.
Source:http://tekno.kompas.com/read/2017/07/03/0654024/waspada.virus.petya.jangan.langsung.nyalakan.komputer.usai.libur.lebaran.
Rumah Sakit di Jakarta Disandera "Ransomware", Minta Tebusan Rp 4 Juta
Akhir pekan ini diwarnai serangan program jahat (virus komputer) jenis ransonmware bernama wanna Decryptor yang melanda hampir 100 negara di seluruh dunia. Jaringan National Health Service (NHS) di Inggris dibuat kerepotan karena ransomeware mengunci dan "menyandera" data pasien di komputer rumah sakit.
Tak lama setelahnya, di hari yang sama, firma keamanan Eset melaporkan bahwa virus komputer Wanna Decryptor telah menyebar ke Indonesia dan mulai memakan korban.“ Ransomware WannaCry (nama lain Wanna Decryptor) yang mulai terdeteksi tanggal 12 Mei 2017 sore waktu Indonesia Barat,” sebut Technical Consultant PT Prosperita ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Sabtu (13/5/2017). Yudhi mengatakan, ketika Wanna Decryptor mulai menyebar di Indonesia, sebagian besar perusahaan sudah mematikan sistem komputer. Namun virus ransomware ini tak urung tetap memakan korban. Berdasarkan pantauan KompasTekno dari Twitter, sejumlah pasien dari sebuah rumah sakit di Jakarta mengeluhkan bahwa sistem komputer antrean di RS tersebut tidak bisa berfungsi karena terinfeksi malware/virus.
“Sudah kena virusnya. Tidak bisa ambil nomor antrian. Bahaya kalau hari kerja masih kayak gini, antrian bisa membludak,” keluh seorang pengguna Twitter.
Di layar komputer tampak notifikasi yang ditampilkan oleh virus Wanna Decryptor. Unit komputer terkunci dan tidak bisa digunakan.
Prompt dan notifikasi (ransom note) tersebut berbahasa Indonesia karena Wanna Decryptor bersifat multi-lingual untuk menyasar korban di berbagai negara. Ada lebih dari 25 bahasa yang bisa ditampilkan oleh Ransomware ini, termasuk Indonesia dan Inggris.
Ransomware Wanna
Decryptor di rumah sakit tersebut diduga telah mengunci sistem piranti
lunak dan data pasien dengan menggunakan enkripsi.
Apabila pihak rumah sakit ingin menyelamatkan data yang disandera itu, tebusan senilai 300 dollar AS (sekitar Rp 4 juta).
Jika
uang tebusan telah ditransfer, pembuat virus akan membuka enkripsi atau
kunci agar sistem dan data dapat diakses seperti sediakala.
Uang tebusan harus dikirim dalam bentuk Bitcoin ke dompet digital sang pembuat program jahat.
Bitcoin
adalah mata uang digital alias cryptocurrency yang transaksinya tidak
bisa dilacak sehingga populer digunakan oleh kalangan dunia hitam,
termasuk pelaku serangan cyber dan pembuat ransomware.
Di
Inggris, dokter-dokter di setidaknya 16 rumah sakit dibuat kerepotan
lantaran dibuat tidak bisa mengakses rekam medis pasien karena ulah
ransomware ini.
Pihak
ESET mengatakan Wanna Decryptor tergolong unik dibandingkan ransomware
lain karena memanfaatkan kelemahan sistem operasi Windows.
Kelemahan
ini berasal dari senjata cyber dinas intel Amerika Serikat, NSA, yang
dicuri dan dibocorkan oleh kelompok hacker Shadow Broker pada April
lalu.
“Exploit NSA punya kemampuan melakukan penetrasi ke dalam
mesin yang menjalankan Windows XP dengan mengeksploitasi kerentanan pada
server Windows SMB. Ini yang menjadi penyebab kenaapa WannaCry bisa
menyebar dalam waktu yang sangat cepat,” papar ESET.
Hingga Jumat
siang waktu Pasifik, firma keamanan Avast mencatat telah terjadi 75.000
kasus infeksi ransomware Wanna Decryptor di 99 negara di seluruh dunia.
Peta sebaran ransomware Wanna Decryptor yang dilansir firma keamanan MalwareTech.com.
Ransomware ini menyerang perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari bank, rumah sakit, hingga telekomunikasi dan kereta api.
“Proses
penyebaran masif disebabkan juga oleh agresifitas ransomware yang terus
bekerja secara terstruktur. Misalnya, apabila satu komputer perusahaan
sudah terinfeksi oleh WannaCry, worm pada ransomware akan mencari
sendiri komputer yang rentan untuk diinfeksi,” imbuh Eset.
Untuk
mencegah infeksi, Eset menyarankan pengguna untuk segera melakukan
update untuk komputer berbasis Windows. Khusus untuk Windows XP,
disarankan untuk upgrade Windows ke versi yang lebih baru karena OS
lawas ini sudah tidak mendapat patch sekuriti dari Microsoft.


Komentar
Posting Komentar